| Angin kencang ribuan salak miring |
|
|
|
| Written by Humas&Protokol |
| Monday, 25 January 2010 09:43 |
|
Angin kencang yang melanda kawasan Lereng Merapi pekan lalu meniup pohon salak yang sedang berbuah. Akibatnya, ribuan pohon menjadi miring dan buah menjadi rusak. Petani diperkirakan mengalami kerugian jutaan rupiah. Kepala Desa Kamongan Kecamatan Srumbung, Agus Fahrudin, menyebutkan, angin kencang melanda kawasan itu pada Senin (11/1) lalu. Ribuan pohon salak tersapu angin tersebut hingga tak kuat menahan daun-daunnya. “Akibatnya, banyak pohon yang menjadi miring, namun tidak sampai roboh. Pohon yang miring tidak hanya pada satu lokasi, tetapi di banyak lahan. Dalam satu lahan, juga tidak semua miring, tetapi hanya puluhan hingga ratusan pohon,” ujarnya, kemarin. Ia menyebutkan, di lahan salaknya yang mencapai beberapa hektare, pohon yang miring mencapai 0,2 hektare atau sekitar 600 pohon. Pohon-pohon ini ini terletak di tengah lahan. Akibat miring karena tersapu angin ini, katanya, pohon mengalami kerusakan. Pada pohon yang telah ada buahnya, bisa menyebabkan buah tersebut putus dari tangkainya. Padahal, buah tersebut belum saatnya dipanen. Akibatnya, buah salak itu tidak bisa dimanfaatkan. Namun jika ada buah yang belum putus namun telah mengkhawatirkan, ia segera mengikatnya dengan tali ke pohon. Langkah yang dilakukan petani, lanjutnya, adalah menegakkan kembali pohon tersebut. Pelepah daun di pohon itu dikurangi untuk mengurangi beban. Selanjutnya, pohon ditegakkan kembali dengan disangga kayu. “Meski ditegakkan kembali, pohon yang miring ini dipastikan akan terganggu produksinya. Dalam setahun ke depan, pohon itu baru akan mengalami masa pemulihan dan dipastikan produksi buahnya akan turun drastis bahkan tidak berbuah,” terangnya. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Srumbung, Sutarto menyebutkan, pihaknya menerima laporan adanya kerusakan pohon salak di tiga desa akibat angin kencang tersebut, yakni Desa Kaliurang, Nglumut dan Kamongan. Ia menyebutkan, kerusakan di Kaliurang seluas 1,2 hektare, sekitar 3.000 pohon dari luasan total lahan salak di desa itu 180 hektare, Desa Nglumut 0,8 hektare (2.000 pohon) dari total luasan lahan 90 hektare dan Kamongan 0,5 hektare (1.250 pohon) dari luasan total 134 hektare. “Sebagian besar pohon yang rusak itu ada buahnya. Kalau buah sudah tua dan siap panen, tidak ada pengaruhnya, tapi pengaruh akan dirasakan enam bulan hingga satu tahun ke depan karena pohon dipastikan tidak akan berbuah. Pohon itu baru akan mengalami masa pemulihan,” terangnya. Selama masa pemulihan itu, ia menyebutkan, diperkirakan penurunan produksi akan mencapai 20% hingga 50%. Biasanya, dalam satu tahun, satu pohon salak bisa menghasilkan 7,5 kilogram. Dari peristiwa ini, ia mengimbau agar petani salak menanam pohon pelindung angin kencang di sekeliling lahan. Pohon pelindung ini misalnya pinus, cemara atau kelapa, yang tidak mengganggu tanaman salak.*Widodo Anwari* |
| Last Updated on Monday, 25 January 2010 10:00 |












